Terbanglah tinggi elangku perkasa
Terbanglah bebas jelajahi angkasa
Terbang dan bawalah serta segenap asa
Terbanglah tinggi elangku perkasa
Reguklah cinta berlumur asa
Berbasuh hasrat kemilau harapan
Aku akan menjadi tonggak engkau berpijak,
Sesaat disaat engkau tersesat dan lelah
Aku akan menjadi udara yang mengiringi nafasmu
Disaat engkau parau dan tersengal
Aku akan menjadi embun
yang mendengar setiap tuturmu tentang angkasa
Semarang, Jumat 3 Oktober 2008
(sesaat aku menemukan kakak yang lama menghilang ’brother Han’)
Karangan Adinda : Rusliana KW
Rangkai kata, tanpa tujuan, ikuti gejolak hati, namun kutemukan makna hidup & kehidupan
Senin, 20 Oktober 2008
Rabu, 15 Oktober 2008
IMPIAN CINTA
Mata belati toreh raga
Linangan darah tinggalkan luka
Gurat siksa dalam terasa
Beku mengering air mata
Raga mengerut layu
Kaki penuh pasak kayu
Jiwa melayang sendu
Derita jengah tinggalkanku
Belatimu haus senyum hangatku
Pasakmu desak perlindunganku
Tatapanmu pojokkan ketidakberdayaanku
Sayangnya .... aku terlalu mencintaimu
Cinta sejak dalam kandungan bunda
Bara api membahana
Hasrat bergejolak merona
Rindu sentuh hangat jiwa
Aku mengering dihempas waktu
Tanah mengeras .... angin hempaskan debu - debu
Kubertahan demi cintaku
Kenangan ranum segar tubuhmu
Kurindui ....
Semerbak nafasmu di kala air basahi bumi
Sentuhan lentik harum jemari
Senyum .... rona bibir bangkitkan sensasi
Aku hanyalah sosok pohon tua
Ratapi akhir kehidupan di taman kota
Merindukan ... kesejukan, kesegaran dan bocah bercengkerama
Masih kusimpan sebiji impian cinta
Harap kelak kutemukan taman impian
Bersama menuai benih kasih cinta
Bersanding bersama dengan segar taman pujaan
Linangan darah tinggalkan luka
Gurat siksa dalam terasa
Beku mengering air mata
Raga mengerut layu
Kaki penuh pasak kayu
Jiwa melayang sendu
Derita jengah tinggalkanku
Belatimu haus senyum hangatku
Pasakmu desak perlindunganku
Tatapanmu pojokkan ketidakberdayaanku
Sayangnya .... aku terlalu mencintaimu
Cinta sejak dalam kandungan bunda
Bara api membahana
Hasrat bergejolak merona
Rindu sentuh hangat jiwa
Aku mengering dihempas waktu
Tanah mengeras .... angin hempaskan debu - debu
Kubertahan demi cintaku
Kenangan ranum segar tubuhmu
Kurindui ....
Semerbak nafasmu di kala air basahi bumi
Sentuhan lentik harum jemari
Senyum .... rona bibir bangkitkan sensasi
Aku hanyalah sosok pohon tua
Ratapi akhir kehidupan di taman kota
Merindukan ... kesejukan, kesegaran dan bocah bercengkerama
Masih kusimpan sebiji impian cinta
Harap kelak kutemukan taman impian
Bersama menuai benih kasih cinta
Bersanding bersama dengan segar taman pujaan
Langganan:
Komentar (Atom)