Mata belati toreh raga
Linangan darah tinggalkan luka
Gurat siksa dalam terasa
Beku mengering air mata
Raga mengerut layu
Kaki penuh pasak kayu
Jiwa melayang sendu
Derita jengah tinggalkanku
Belatimu haus senyum hangatku
Pasakmu desak perlindunganku
Tatapanmu pojokkan ketidakberdayaanku
Sayangnya .... aku terlalu mencintaimu
Cinta sejak dalam kandungan bunda
Bara api membahana
Hasrat bergejolak merona
Rindu sentuh hangat jiwa
Aku mengering dihempas waktu
Tanah mengeras .... angin hempaskan debu - debu
Kubertahan demi cintaku
Kenangan ranum segar tubuhmu
Kurindui ....
Semerbak nafasmu di kala air basahi bumi
Sentuhan lentik harum jemari
Senyum .... rona bibir bangkitkan sensasi
Aku hanyalah sosok pohon tua
Ratapi akhir kehidupan di taman kota
Merindukan ... kesejukan, kesegaran dan bocah bercengkerama
Masih kusimpan sebiji impian cinta
Harap kelak kutemukan taman impian
Bersama menuai benih kasih cinta
Bersanding bersama dengan segar taman pujaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar