Semenjak umurku tiga tahun
Sedangkan adekku berumur lima bulan dalam kandungan ibu
Ayah telah kembali ke ribaan Sang Pencipta
Namun keangungan cinta Ibu kepada ayah masih sangat terpatri sampai detik ini
Awalnya nenek (ibu dari ayah) tidak menyetui pernikahan beda keyakinan dan beda suku ini
Namun beberapa hari setelah ayah meninggal
Nenek mengatakan bahwa ibuku telah menjadi menantu yang baik
Sehingga sejak itu nenek tidak lagi menganggap menantu melainkan sebagai anak
Disaat Nenek masih ada
Keluarga besar ayah sering berkunjung ke Jawa
Hingga silahturami kami tak pernah putus
Hanya saja kami belum mendapat kesempatan berkunjung ke Kalimantan
Kami selalu tak cukup punya uang untuk pergi ke kampung Nenek
Hingga suatu saat
Budi baik Pakde (kakak ibuku) menyirami kerinduan kami
Aku berkesempatan datang ke Banjarmasin
Disaat usiaku lebih dari seperempat abad
Tahu aku akan berkunjung
Nenek begitu bersemangat meski tubuhnya telah renta
Nenek tidur hingga larut malam menjahit kelambu tempat tidur
Supaya aku bisa tidur nyaman bersama beliau
Aku begitu trenyuh sewaktu acil dan sepupuku menceritakannya
Sepanjang malam Nenek banyak bercerita tentang kebaikan ayah
Nenek juga banyak memberi pesan
Supaya aku menjalani hidup dengan benar
Kurasakan suasana yang berbeda
Bercengkrama dengan saudara di rumah panggung bermaterial kayu
Sembari lesehan menikmati makanan khas Banjar
Sesekali aku coba memperlajari bahasa daerah Banjar
Sayangnya setelah nenek kembali ke ribaan Sang Pencipta
Silaturahmi keluarga besar Ayah dengan kami merenggang
Tidak semua Acil, Paman dan sepupu kami bisa menerima pilihan hidup kita
Mengapa perbedaan keyakinan bisa memperkeruh kekeluargaaan dan kekerabatan kami
Kurindu suasana di rumah panggung bersama nenek dan keluarga besar ayah
Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan memberi jalan terbaik bagi kami
Nenek ... ayah ... kami selalu berdoa dan menyayangimu
Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar