Minggu, 09 November 2008

ANGEL

“Kau tau,Ona. Ini sudah ketiga kalinya dalam satu minggu ini, laki-laki itu mendatangi mimpiku lagi. Oh, Ona....aku begitu bahagia....damai...tenang.....teduh....”
Arletta terus mengurai cerita mimpinya tanpa peduli lagi apakah sahabatnya menyimak setiap kata yang meluncur dari bibirnya yang muncis.
Viona hanya terpekur mendengarkan Arletta berceloteh. Dia sudah sangat hafal dengan kisah mimpi sahabatnya pekan ini, tanpa harus membuka memori dalam otaknya, Viona mampu menuturkan kembali kisah mimpi sahabat karibnya ini. Arleta berkisah laki-laki itu mendatangi mimpinya tiga kali sepekan ini tapi Viona telah mendengar tiga puluh ribu kali Arletta me-reply berulang-ulang ceritaz mimpinya, persis seperti tape pak Imo-hansip penjaga komplek perumahanku,yang gemar menjebak pita kaset sehingga semalam suntuk hanya terdengar lagu Walangkekeknya Waldjinah dari tape tua kesayangannya itu..
Maka saat ini ada dua hal yang bisa kututurkan dari mulutku, bahkan akan terdengar sangat fasih meski aku menuturkannya sambil mendengkur, yaitu lagu Walangkekek dan cerita mimpi Arletta.
Seorang laki-laki berwajah kemilau, tatapannya teduh, suaranya syahdu seperti biola, laki-laki itu berdiri di gerbang pintu rumahnya, menyambut Arletta dan membimbing pundaknya. Laki-laki itu menumbuhkan sayap dengan bulu-bulu halus di punggung Arletta. Mereka terbang tinggi menjelajahi angkasa, menyibak awan putih, menerpa angin yang lembut, mengarungi langit biru yang tak tampakpilu.
Lelaki itu membawa Arletta ke sebuah taman yang begitu indah dan asing baginya, sungai susu mengalir putih berlimpah-limpah, cairan madu keemasan mengaliri bebatuan tebing nan molek, pepohonan begitu hijau dengan buah-buah ranum. Arleta terduduk di batu pipih di tepian telaga. Telaga yang bening dan transparan berupa-rupa ikan warna-warni berkejaran riang. Kecipak air mengiringi irama alam yang begitu meneduhkan hati. Arleta sendirian, terduduk sendiri dibatu pipih....laki-laki itu menghilang tanpa sempat ia tau nama dan dari mana laki-laki itu berasal.
Arletta masih terus berkisah. Viona segera memenggal cerita sahabatnya
”Kau sudah tanya siapa nama laki-laki itu? Dari mana asalnya?” Tanya Viona datar.
”Belum. Belum lagi sempat kutanya, laki-laki itu sudah menghilang.” Jawab Arletta polos
”Besok kalau dia datang lagi dalam mimpimu, segera tanyakan nama dan alamat rumahya saat dia masih berdiri di gerbang rumahmu atau saat kalian terbang bersama.” Saran Viona pada Arletta. Ha ha ha entahlah, sebuah saran yang konyol atau masuk akal, karena sebenarnya Viona sudah cukup jemu mendengar kisah mimpi Arletta, dan ia khawatir sahabatnya akan menjadi gila karena kembang tidur.
”Letta, mimpimu itu hanya kembang tidur. Kamu jangan terobsesi....bisa gila kau nanti!” Gertak Viona pada Arletta.
”Tidak, sobat. Mimpi-mimpiku kali ini nyata. Aku tau mimpi ini mempunyai makna untuk hidupku. Siapa tau dia jodohku yang Tuhan kirimkan buat aku.” Arleta tersenyum penuh kebahagiaan.
”Akh, Letta...”Viona mendesah”Maka dari itu, kau ingat baik-baik tanyakan nama dan alamatnya. Supaya kau bisa segara menemukan pangeran idamanmu itu.” Viona beranjak pergi meninggalkan sahabatnya yang masih terbuai dengan kisah mimpinya.

Minggu yang cerah. Selusin burung gereja bermain kecipak air di jambangan teratai di bibir jendela kamar Viona. Wangi bunga kemuning menyeruak ke dalam kamarnya bersama angin pagi yang sejuk, pendar jingga surya pagi menggelitik wajahnya. Padahal semalam hujan turun sangat deras, angin mengalir kencang, petir menyambar-nyambar, suasana semalam sangat mencekam berbalikan dengan suasana pagi ini. Begitulah, habis gelap terbitlah terang.Viona masih enggan untuk bangun saat telepon genggamnya mengalunkan melodi panggil. Akh, Arletta....ada apa anak ini pagi-pagi sudah menelpon, jangan-jangan tentang mimpi gila itu lagi.
”Halo, Viona. Kau tak akan percaya Viona laki-laki itu sekarang berdiri di gerbang rumahku. Bukan dalam mimpiku lagi Viona, ini nyata. Bisa kau datang ke rumahku sesegera mungkin. Aku akan berusaha menahan laki-laki itu di rumahku sampai kau datang, supaya kau percaya aku tidak menjadi gila karena mimpiku.”
Telepon segera ditutup tanpa Viona sempat menjawab barang sepatah kata. Arleta meninggalkan Viona dalam keheranan. Sebenarnya Viona masih enggan untuk beranjak dari peraduannya, namun telepon Arleta membuat Viona penasaran. Ia memutuskan untuk tidak mandi, ia mengemas satu stel pakaian ke dalam tas ranselnya, lalu ia bergegas ke rumah Arletta. ”Lebih baik aku mandi di rumah Arleta daripada aku keburu mati penasaran karena kisah mimpi Arleta yang tiba-tiba menjadi nyata.”

Viona terkejut tak alang-kepalang. Melihat kerumunan warga di depan rumah Arleta, Sebuah pohon angsana tua peneduh jalan yang semula berdiri di sisi rumah Arleta roboh ke jalan dan menimpa sebagian pagar rumah Arleta. Yang membuat ia gemetar, sesosok tubuh yang ia kenal tertelungkup diam di bawah batang angsana yang roboh. Tubuh Arleta. Ibunya menjerit histeris lalu pingsan. Sementara kakak lelakinya dan ayahnya berdiri terpaku melihat tubuh Arleta yang terjerembab.
Mbak Surti, pengasuh Arletta semenjak ia balita, terus menerus berulang-ulang menceritakan kronologis tragedi pohon angsana yang menimpa Arletta. Tak ada polisi atau pejabat aparatur kampung yang meminta keterangan, tapi mbak Surti terus bercerita hingga tubuhnya gemetar
” Mbak Letta tadi terburu-buru berlari menuju gerbang. Waktu saya tanya mau kemana, mbak Letta tidak menjawab. Dia nampak begitu cantik, begitu riang. Tiba-tiba, pohon angsana di depan rumah roboh, menghantam dan menghembaskan tubuh mbak Letta.....
Viona mengguncang tubuh mbak Surti, lalu mendekapnya erat. Viona berusaha meredakan kegalauan mbak Surti
”Mbak Surti, tau nggak teman laki-laki Viona yang tadi pagi datang kerumah?” Tanya Viona
”Teman? teman yang mana mbak?”
”Jadi tadi pagi tidak ada yang kemari mencari Arletta?”
Mbak Surti hanya menggeleng, perempuan itu kembali larut dalam isak tangisnya.

Arletta nampak begitu cantik dalam balutan gaun putih berenda-renda. Tak ada luka memar, luka gores ataupun luka apapun yang nampak dalam tubuh bekunya. Ia tersenyum begitu indah. Semua orang masih belum mengerti, mengapa Arletta hari ini bisa meninggal begitu tragis. Tapi aku sahabatnya, yang sudah cukup kenyang dengan cerita mimpi Arletta kini mengerti......selamat jalan sahabat.....selamat bersua ditaman surgawi.


Semarang, 10.10.2008
Karangan Adinda : Rusliana K W

Tidak ada komentar: