Rangkai kata, tanpa tujuan, ikuti gejolak hati, namun kutemukan makna hidup & kehidupan
Selasa, 16 September 2008
KURINDU SUASANA DI RUMAH PANGGUNG
Sedangkan adekku berumur lima bulan dalam kandungan ibu
Ayah telah kembali ke ribaan Sang Pencipta
Namun keangungan cinta Ibu kepada ayah masih sangat terpatri sampai detik ini
Awalnya nenek (ibu dari ayah) tidak menyetui pernikahan beda keyakinan dan beda suku ini
Namun beberapa hari setelah ayah meninggal
Nenek mengatakan bahwa ibuku telah menjadi menantu yang baik
Sehingga sejak itu nenek tidak lagi menganggap menantu melainkan sebagai anak
Disaat Nenek masih ada
Keluarga besar ayah sering berkunjung ke Jawa
Hingga silahturami kami tak pernah putus
Hanya saja kami belum mendapat kesempatan berkunjung ke Kalimantan
Kami selalu tak cukup punya uang untuk pergi ke kampung Nenek
Hingga suatu saat
Budi baik Pakde (kakak ibuku) menyirami kerinduan kami
Aku berkesempatan datang ke Banjarmasin
Disaat usiaku lebih dari seperempat abad
Tahu aku akan berkunjung
Nenek begitu bersemangat meski tubuhnya telah renta
Nenek tidur hingga larut malam menjahit kelambu tempat tidur
Supaya aku bisa tidur nyaman bersama beliau
Aku begitu trenyuh sewaktu acil dan sepupuku menceritakannya
Sepanjang malam Nenek banyak bercerita tentang kebaikan ayah
Nenek juga banyak memberi pesan
Supaya aku menjalani hidup dengan benar
Kurasakan suasana yang berbeda
Bercengkrama dengan saudara di rumah panggung bermaterial kayu
Sembari lesehan menikmati makanan khas Banjar
Sesekali aku coba memperlajari bahasa daerah Banjar
Sayangnya setelah nenek kembali ke ribaan Sang Pencipta
Silaturahmi keluarga besar Ayah dengan kami merenggang
Tidak semua Acil, Paman dan sepupu kami bisa menerima pilihan hidup kita
Mengapa perbedaan keyakinan bisa memperkeruh kekeluargaaan dan kekerabatan kami
Kurindu suasana di rumah panggung bersama nenek dan keluarga besar ayah
Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan memberi jalan terbaik bagi kami
Nenek ... ayah ... kami selalu berdoa dan menyayangimu
Amin
Kamis, 11 September 2008
NISTA
KENAPA .....
Rusuk kaku terpasung
Mata berkaca tiada makna
Jiwa melayang hampa
Nurani mati suri
Kenapa dia mesti terlahir ?
Kenapa hidup tak jua berakhir ?
Kenapa dia tak juga mengerti
Hidup tak harus disesali
Rind
DENDAM TERDIAM
Karangan adinda : Rusliana KW
TIDURLAH LELAP
Tatap mata menerawang pilu
Lidah kelu mulut bisu
Hampa jiwa membelenggu
Lirih senandung sendu
Raga berbalut kain ungu
Hangat pusara di hadapan
Harap sirna dalam dekapan
Terenggut buah hati dari pangkuan
Mendung selimuti senyuman
Goyah langkah menyusuri pemakaman
Sepi balur relung hati
Serpihan raga berpencar menyepi
Pendar aura meredup mati
Membelai menimang sekedar mimpi
Lirih doa terucap tiada henti
Tidurlah lelap di alam surgawi
Rind
SESAAT
Sesaat ....
Kembali kubertemu dengannya
Sosok pria Jawa bertutur santun
Sederhana ... lembah manah
Welas asih ... wicaksono
Ngabekti dateng Kanjeng Gusti
Tempaan hidup,
Membentuknya semakin dewasa dan bijak
Pancarkan pesona dan karisma
Tatap dan senyumnya meneduhkanku
Mengalir kisah pengembaraannya
Tergambar beban berat dan derita
Kedua orang tuanya semakin renta
Cita tak jua tergapai
Matanya menerawang
Seolah semua harap sirna
Bayangan kelam menyelimuti
Sesaat ... dia berbisik
Ketulusan dan cinta membuatnya tabah
Asa dan cita membuatnya tegar
Awal November ....
Dia kembali mengembara
Sesaat ... kuterdiam
Mengapa hanya sesaat ?
Seandainya kubisa hentikan detak waktu
Kuingin dengar kisahnya lebih lama lagi
Sesaat ... kuberharap
Dia kembali lagi
Bawa segenggam cita
Rind