Selasa, 30 Desember 2008

AKANKAH CINTA SINGGAH ?

Diam beribu bahasa
Tatap matanya isyarat tanya
Kesegarannya pancarkan pesona
Mungkinkan kuterpukau padanya

Tepat berada di depan mataku
Pria muda pancarkan karisma kehangatan
Senyumnya mampu lumerkan kebekuan hatiku
Namun bisakah aku lepaskan kukungan kekhawatiran

Alam kehidupan ajariku tentang asa dan cinta
Ku tak lagi percaya ketulusan cinta
Cinta hanya torehkan luka dan duka
Cinta .. asa .. beriringan dewasakan insan manusia

Akankah cinta singgah dengan indah ?
Akankah cinta sembuhkan asa dengan ketulusan ?
Tergapai impian bagai rona mawar merekah
Akankah cinta tebarkan impian dan harapan ?

Bisakah pria muda itu berikan ketulusan cinta ?
Mengikis belenggu kekhawatiranku
Menguatkan cinta menggapai cita
Mendampingi hingga ajal menjelangku

Minggu, 09 November 2008

ANGEL

“Kau tau,Ona. Ini sudah ketiga kalinya dalam satu minggu ini, laki-laki itu mendatangi mimpiku lagi. Oh, Ona....aku begitu bahagia....damai...tenang.....teduh....”
Arletta terus mengurai cerita mimpinya tanpa peduli lagi apakah sahabatnya menyimak setiap kata yang meluncur dari bibirnya yang muncis.
Viona hanya terpekur mendengarkan Arletta berceloteh. Dia sudah sangat hafal dengan kisah mimpi sahabatnya pekan ini, tanpa harus membuka memori dalam otaknya, Viona mampu menuturkan kembali kisah mimpi sahabat karibnya ini. Arleta berkisah laki-laki itu mendatangi mimpinya tiga kali sepekan ini tapi Viona telah mendengar tiga puluh ribu kali Arletta me-reply berulang-ulang ceritaz mimpinya, persis seperti tape pak Imo-hansip penjaga komplek perumahanku,yang gemar menjebak pita kaset sehingga semalam suntuk hanya terdengar lagu Walangkekeknya Waldjinah dari tape tua kesayangannya itu..
Maka saat ini ada dua hal yang bisa kututurkan dari mulutku, bahkan akan terdengar sangat fasih meski aku menuturkannya sambil mendengkur, yaitu lagu Walangkekek dan cerita mimpi Arletta.
Seorang laki-laki berwajah kemilau, tatapannya teduh, suaranya syahdu seperti biola, laki-laki itu berdiri di gerbang pintu rumahnya, menyambut Arletta dan membimbing pundaknya. Laki-laki itu menumbuhkan sayap dengan bulu-bulu halus di punggung Arletta. Mereka terbang tinggi menjelajahi angkasa, menyibak awan putih, menerpa angin yang lembut, mengarungi langit biru yang tak tampakpilu.
Lelaki itu membawa Arletta ke sebuah taman yang begitu indah dan asing baginya, sungai susu mengalir putih berlimpah-limpah, cairan madu keemasan mengaliri bebatuan tebing nan molek, pepohonan begitu hijau dengan buah-buah ranum. Arleta terduduk di batu pipih di tepian telaga. Telaga yang bening dan transparan berupa-rupa ikan warna-warni berkejaran riang. Kecipak air mengiringi irama alam yang begitu meneduhkan hati. Arleta sendirian, terduduk sendiri dibatu pipih....laki-laki itu menghilang tanpa sempat ia tau nama dan dari mana laki-laki itu berasal.
Arletta masih terus berkisah. Viona segera memenggal cerita sahabatnya
”Kau sudah tanya siapa nama laki-laki itu? Dari mana asalnya?” Tanya Viona datar.
”Belum. Belum lagi sempat kutanya, laki-laki itu sudah menghilang.” Jawab Arletta polos
”Besok kalau dia datang lagi dalam mimpimu, segera tanyakan nama dan alamat rumahya saat dia masih berdiri di gerbang rumahmu atau saat kalian terbang bersama.” Saran Viona pada Arletta. Ha ha ha entahlah, sebuah saran yang konyol atau masuk akal, karena sebenarnya Viona sudah cukup jemu mendengar kisah mimpi Arletta, dan ia khawatir sahabatnya akan menjadi gila karena kembang tidur.
”Letta, mimpimu itu hanya kembang tidur. Kamu jangan terobsesi....bisa gila kau nanti!” Gertak Viona pada Arletta.
”Tidak, sobat. Mimpi-mimpiku kali ini nyata. Aku tau mimpi ini mempunyai makna untuk hidupku. Siapa tau dia jodohku yang Tuhan kirimkan buat aku.” Arleta tersenyum penuh kebahagiaan.
”Akh, Letta...”Viona mendesah”Maka dari itu, kau ingat baik-baik tanyakan nama dan alamatnya. Supaya kau bisa segara menemukan pangeran idamanmu itu.” Viona beranjak pergi meninggalkan sahabatnya yang masih terbuai dengan kisah mimpinya.

Minggu yang cerah. Selusin burung gereja bermain kecipak air di jambangan teratai di bibir jendela kamar Viona. Wangi bunga kemuning menyeruak ke dalam kamarnya bersama angin pagi yang sejuk, pendar jingga surya pagi menggelitik wajahnya. Padahal semalam hujan turun sangat deras, angin mengalir kencang, petir menyambar-nyambar, suasana semalam sangat mencekam berbalikan dengan suasana pagi ini. Begitulah, habis gelap terbitlah terang.Viona masih enggan untuk bangun saat telepon genggamnya mengalunkan melodi panggil. Akh, Arletta....ada apa anak ini pagi-pagi sudah menelpon, jangan-jangan tentang mimpi gila itu lagi.
”Halo, Viona. Kau tak akan percaya Viona laki-laki itu sekarang berdiri di gerbang rumahku. Bukan dalam mimpiku lagi Viona, ini nyata. Bisa kau datang ke rumahku sesegera mungkin. Aku akan berusaha menahan laki-laki itu di rumahku sampai kau datang, supaya kau percaya aku tidak menjadi gila karena mimpiku.”
Telepon segera ditutup tanpa Viona sempat menjawab barang sepatah kata. Arleta meninggalkan Viona dalam keheranan. Sebenarnya Viona masih enggan untuk beranjak dari peraduannya, namun telepon Arleta membuat Viona penasaran. Ia memutuskan untuk tidak mandi, ia mengemas satu stel pakaian ke dalam tas ranselnya, lalu ia bergegas ke rumah Arletta. ”Lebih baik aku mandi di rumah Arleta daripada aku keburu mati penasaran karena kisah mimpi Arleta yang tiba-tiba menjadi nyata.”

Viona terkejut tak alang-kepalang. Melihat kerumunan warga di depan rumah Arleta, Sebuah pohon angsana tua peneduh jalan yang semula berdiri di sisi rumah Arleta roboh ke jalan dan menimpa sebagian pagar rumah Arleta. Yang membuat ia gemetar, sesosok tubuh yang ia kenal tertelungkup diam di bawah batang angsana yang roboh. Tubuh Arleta. Ibunya menjerit histeris lalu pingsan. Sementara kakak lelakinya dan ayahnya berdiri terpaku melihat tubuh Arleta yang terjerembab.
Mbak Surti, pengasuh Arletta semenjak ia balita, terus menerus berulang-ulang menceritakan kronologis tragedi pohon angsana yang menimpa Arletta. Tak ada polisi atau pejabat aparatur kampung yang meminta keterangan, tapi mbak Surti terus bercerita hingga tubuhnya gemetar
” Mbak Letta tadi terburu-buru berlari menuju gerbang. Waktu saya tanya mau kemana, mbak Letta tidak menjawab. Dia nampak begitu cantik, begitu riang. Tiba-tiba, pohon angsana di depan rumah roboh, menghantam dan menghembaskan tubuh mbak Letta.....
Viona mengguncang tubuh mbak Surti, lalu mendekapnya erat. Viona berusaha meredakan kegalauan mbak Surti
”Mbak Surti, tau nggak teman laki-laki Viona yang tadi pagi datang kerumah?” Tanya Viona
”Teman? teman yang mana mbak?”
”Jadi tadi pagi tidak ada yang kemari mencari Arletta?”
Mbak Surti hanya menggeleng, perempuan itu kembali larut dalam isak tangisnya.

Arletta nampak begitu cantik dalam balutan gaun putih berenda-renda. Tak ada luka memar, luka gores ataupun luka apapun yang nampak dalam tubuh bekunya. Ia tersenyum begitu indah. Semua orang masih belum mengerti, mengapa Arletta hari ini bisa meninggal begitu tragis. Tapi aku sahabatnya, yang sudah cukup kenyang dengan cerita mimpi Arletta kini mengerti......selamat jalan sahabat.....selamat bersua ditaman surgawi.


Semarang, 10.10.2008
Karangan Adinda : Rusliana K W

Senin, 20 Oktober 2008

ELANG PERKASA

Terbanglah tinggi elangku perkasa
Terbanglah bebas jelajahi angkasa
Terbang dan bawalah serta segenap asa

Terbanglah tinggi elangku perkasa
Reguklah cinta berlumur asa
Berbasuh hasrat kemilau harapan

Aku akan menjadi tonggak engkau berpijak,
Sesaat disaat engkau tersesat dan lelah
Aku akan menjadi udara yang mengiringi nafasmu
Disaat engkau parau dan tersengal
Aku akan menjadi embun
yang mendengar setiap tuturmu tentang angkasa

Semarang, Jumat 3 Oktober 2008
(sesaat aku menemukan kakak yang lama menghilang ’brother Han’)

Karangan Adinda : Rusliana KW

Rabu, 15 Oktober 2008

IMPIAN CINTA

Mata belati toreh raga
Linangan darah tinggalkan luka
Gurat siksa dalam terasa
Beku mengering air mata

Raga mengerut layu
Kaki penuh pasak kayu
Jiwa melayang sendu
Derita jengah tinggalkanku

Belatimu haus senyum hangatku
Pasakmu desak perlindunganku
Tatapanmu pojokkan ketidakberdayaanku
Sayangnya .... aku terlalu mencintaimu

Cinta sejak dalam kandungan bunda
Bara api membahana
Hasrat bergejolak merona
Rindu sentuh hangat jiwa

Aku mengering dihempas waktu
Tanah mengeras .... angin hempaskan debu - debu
Kubertahan demi cintaku
Kenangan ranum segar tubuhmu

Kurindui ....
Semerbak nafasmu di kala air basahi bumi
Sentuhan lentik harum jemari
Senyum .... rona bibir bangkitkan sensasi

Aku hanyalah sosok pohon tua
Ratapi akhir kehidupan di taman kota
Merindukan ... kesejukan, kesegaran dan bocah bercengkerama
Masih kusimpan sebiji impian cinta

Harap kelak kutemukan taman impian
Bersama menuai benih kasih cinta
Bersanding bersama dengan segar taman pujaan

Selasa, 16 September 2008

KURINDU SUASANA DI RUMAH PANGGUNG

Semenjak umurku tiga tahun
Sedangkan adekku berumur lima bulan dalam kandungan ibu
Ayah telah kembali ke ribaan Sang Pencipta
Namun keangungan cinta Ibu kepada ayah masih sangat terpatri sampai detik ini

Awalnya nenek (ibu dari ayah) tidak menyetui pernikahan beda keyakinan dan beda suku ini
Namun beberapa hari setelah ayah meninggal
Nenek mengatakan bahwa ibuku telah menjadi menantu yang baik
Sehingga sejak itu nenek tidak lagi menganggap menantu melainkan sebagai anak

Disaat Nenek masih ada
Keluarga besar ayah sering berkunjung ke Jawa
Hingga silahturami kami tak pernah putus
Hanya saja kami belum mendapat kesempatan berkunjung ke Kalimantan
Kami selalu tak cukup punya uang untuk pergi ke kampung Nenek

Hingga suatu saat
Budi baik Pakde (kakak ibuku) menyirami kerinduan kami
Aku berkesempatan datang ke Banjarmasin
Disaat usiaku lebih dari seperempat abad

Tahu aku akan berkunjung
Nenek begitu bersemangat meski tubuhnya telah renta
Nenek tidur hingga larut malam menjahit kelambu tempat tidur
Supaya aku bisa tidur nyaman bersama beliau
Aku begitu trenyuh sewaktu acil dan sepupuku menceritakannya

Sepanjang malam Nenek banyak bercerita tentang kebaikan ayah
Nenek juga banyak memberi pesan
Supaya aku menjalani hidup dengan benar
Kurasakan suasana yang berbeda
Bercengkrama dengan saudara di rumah panggung bermaterial kayu
Sembari lesehan menikmati makanan khas Banjar
Sesekali aku coba memperlajari bahasa daerah Banjar

Sayangnya setelah nenek kembali ke ribaan Sang Pencipta
Silaturahmi keluarga besar Ayah dengan kami merenggang
Tidak semua Acil, Paman dan sepupu kami bisa menerima pilihan hidup kita
Mengapa perbedaan keyakinan bisa memperkeruh kekeluargaaan dan kekerabatan kami
Kurindu suasana di rumah panggung bersama nenek dan keluarga besar ayah
Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan memberi jalan terbaik bagi kami
Nenek ... ayah ... kami selalu berdoa dan menyayangimu
Amin



Kamis, 11 September 2008

NISTA

Kelabu selimuti hidup
Guratan siksa menoreh luka
Raga makin layu meredup
Membayang lelaku kelam nan nista

Kuterlahir dari rahim miskin terbuang
Perut kosong melolong lantang
Kemuliaan Ilahi rasa menghilang
Ketidakberdayaan dan nista jelas membayang

Cinta dan kasih terkubur nafsu
Bergumul dengan begundal berkantong tebal
Kurengkuh kebahagian semu
Menikmati lakon wanita sundal

Di kelam malam kutatap rembulan
Sinarnya beri secercah harapan
Duh Gusti kumohon ampunan
Kuakhiri hidup tuk jalani api pencucian

KENAPA .....

Rusuk kaku terpasung
Mata berkaca tiada makna
Jiwa melayang hampa
Nurani mati suri

Kenapa dia mesti terlahir ?
Kenapa hidup tak jua berakhir ?
Kenapa dia tak juga mengerti
Hidup tak harus disesali

Rind

DENDAM TERDIAM

Ingin sekali kuakhiri semua di ujung belati
Atau menggantungnya di pohon jati
Mungkin menjungkalnya ke tengah kali
Pasti kusisakan untuk kau bagian hati

Belum pupus luka sayat yang ditoreh
Luka memar pun belum lepas dari boreh
Aku hanya ingin sesekali ditoleh

Diamku menyirat dendam
Dendamku berucap diam
Biarkan waktu terus menganyam
Sampai angin membawa debuku ke pucuk daun gayam


Menjungkal = mendorong dari belakang (jawa)
Boreh = kompres untuk meredamkan luka memar yang terbuat dari jamu jawa

Karangan adinda : Rusliana KW

TIDURLAH LELAP

Tatap mata menerawang pilu
Lidah kelu mulut bisu
Hampa jiwa membelenggu
Lirih senandung sendu
Raga berbalut kain ungu

Hangat pusara di hadapan
Harap sirna dalam dekapan
Terenggut buah hati dari pangkuan
Mendung selimuti senyuman
Goyah langkah menyusuri pemakaman

Sepi balur relung hati
Serpihan raga berpencar menyepi
Pendar aura meredup mati
Membelai menimang sekedar mimpi
Lirih doa terucap tiada henti
Tidurlah lelap di alam surgawi

Rind

SESAAT

Sesaat ....
Kembali kubertemu dengannya
Sosok pria Jawa bertutur santun
Sederhana ... lembah manah
Welas asih ... wicaksono
Ngabekti dateng Kanjeng Gusti

Tempaan hidup,
Membentuknya semakin dewasa dan bijak
Pancarkan pesona dan karisma
Tatap dan senyumnya meneduhkanku

Mengalir kisah pengembaraannya
Tergambar beban berat dan derita
Kedua orang tuanya semakin renta
Cita tak jua tergapai
Matanya menerawang
Seolah semua harap sirna
Bayangan kelam menyelimuti

Sesaat ... dia berbisik
Ketulusan dan cinta membuatnya tabah
Asa dan cita membuatnya tegar
Awal November ....
Dia kembali mengembara

Sesaat ... kuterdiam
Mengapa hanya sesaat ?
Seandainya kubisa hentikan detak waktu
Kuingin dengar kisahnya lebih lama lagi

Sesaat ... kuberharap
Dia kembali lagi
Bawa segenggam cita

Rind

Senin, 25 Agustus 2008

KENANGAN CINTA

Aktivitas di museum terlihat sepi
Bocah – bocah berlarian kembali ke rumah
Setelah asyik bermain di boulevard dan loko – loko tua
Mereka selalu ingat pesan emak
Saat maghrib loko – loko akan membawa sang bocah

Di gerbang museum
Terlihat seorang gadis bertemu pujaan hatinya
Seorang pria selalu menantinya di tempat yang sama
Senyum dan tatapan yang sama

Lama gadis itu tidak muncul
Pria itu masih setia menanti
Namun kehidupan menuntutnya untuk merantau

Kini sang gadis telah renta
Dia menyusuri museum ditemani tongkatnya
Dia mengenang cinta pertamanya
Cinta yang telah lama dia tinggalkan

Tut tut tut… kereta uap melaju
Membuyarkan lamunan sang gadis
Kereta menyusuri perkampungan dan hamparan sawah

Sesekali terlihat ….
Bocah – bocah melambaikan tangan dengan riang
Itik dan ayam berlarian menyeberangi rel
Kereta berjalan perlahan
Mendaki rel bergerigi

Perjalanan berakhir di Bedono
Perjalanan yang mengesankan
Seperti kenangannya di museum
Cinta bersemi namun dia tinggalkan



KEMOLEKANKU

Kutergagap …
Gelap, pengap, usik lelap
Mataku menerawang,
Jalang …

Wajahku merah berlumur nanah
Bak kawah – kawah merekah
Semua makluk jadi jengah
Ribuan paku, hiasi tubuhku
Menusuk rusuk, menyeruak bau busuk

Bola mataku berpijar, berpencar, liar
Mulutku, lidahku bersahutan berseru saru
Otakku muncrat, kecoa jilati dengan nikmat

Cermin,
kau pantas kumaki kubantai
Lenyap dari muka bumi
Kau penipu, pantulkan bayangan semu
Aku ingin terus nikmati kemolekanku


Jumat, 22 Agustus 2008

KE KASIH KEKASIH HATI

Sepoi angin di ujung bukit menyibak pekat rambut kelamku
Tubuh berdiri beku di antara pucuk ilalang
Berlindung di bawah gantungan awan kelabu
Menyorot batas cakrawala yang kelam menghilang
Di sini…..aku menanti
Setiap jawab yang kuingini
Di sini…. aku menanti
Kekasih hati yang kurindui

AnginMu nan lembut menyusup kalbuku
Jari-jari ilalang membuai tubuhku
Kekasih hati Kau buai segala hasrat hidupku
Namun mengapa hatiku selalu pilu merinduiMu
Bolehkah aku mencumbuiMu
Berpeluh dalam ribaanMu
Sekedar membenamkan tubuhku dalam dekapMu

…..kankunyanyikan lirih kidung untukMu
Allahku ya Allahku, kekasih mempelai hatiku
Kupejam mata ini untuk surgaMu
Berkati aku sejiwa denganMu
Agar rinduku tak berujung pilu

Karangan adinda : Rusliana K W

Kamis, 21 Agustus 2008

PARAU KEMARAU

Mak….aku lapar!
Tubuh mungilku mulai gemetar
Bukankah terakhir aku kenyang saat kemarin fajar?
Senja kedua mulai angslup
Lihat Mak perutku sudah susut!
Di dapur kulihat ada sekerat umbi kerut
Bolehkah kumakan untuk mengganjal perut?

Aku haus Mak!
Seteguk air sudah cukup melepaskan dahagaku, Mak
Tak mengapa air minum itu keruh , berkapur atau berlumut
Mungkin kapur dan lumut dalam keruh air itu akan turut
….…mengenyangkan perutku

Nak…lihatlah….ini bukan maunya emak
Membiarkan tubuh mungilmu lapar dan kehausan
Bapakmu juga tak kurang keringat
Mengolah lahan ,menabur benih
Mengais telaga mencari sisa air
Menyusup hutan mencari buruan
Agar kita tak lapar dan kehausan

Tanah sudah keras merekah
Telaga sudah kering kerontang
Buruan di hutan entah lari kemana
Bahkan hutan yang ranum dan rindang
Sudah lenyap dari pandangan

Alam sudah enggan bersahabat dengan kita
………….atau………….
kita yang tadinya enggan bersahabat dengan alam
Nak, maafkan emak dan bapak
Karena kau harus bersahabat dengan lapar dan hausmu

Karangan adinda : Rusliana K W

ANGIN

Tahun windu tlah berlalu
Ternyata diriku masih tegar berdiri
Kehidupan pun setia menemani
Waktu itu kumerasa tanpa arti
Bagai serpihan, hilang terbawa sepi

Angin berhembus menusuk sukma
Mengoyakkan jiwa nestapa
Kususun serpihan yang tersisa
Diriku tak lagi sempurna

Di kejauhan kulihat cahaya
Ku mesti melangkah
Namun kakiku telah lama membatu
Terpasung dan layu
Angin menyatulah denganku

Nafasmu menggelorakan jiwa
Lidahmu menghangatkan kakiku
Kekuatanmu membuatku tegar
Angin dengarkanlah aku




NIKMAT SESAAT

Terpana pertama mengenalmu
Gurat wajah sesegar dedaunan tembakau
Tubuh kekar nan legam teterpa sang surya
Setapak demi setapak kujelajahi
Kelembutan ... keperkasaan ... kunikmati
Kejujuran ... kesederhanaan ... kutemui

Gejolak kuasa alam
Jurang tebing telanjang menantang
Ritme bebatuan menerjal tajam
Surya garang hanguskan sepi
Gapai puncak hirarki

Tatap mata hati menyatu
Rasa pedih kelam membatu
Haus sentuhan kasih lembut
Keperkasaan lenyap terperdaya
Moral .. harga diri ... tinggallah asa
Gemuruh batu hancurkan harapan

Terkenang dusun sejuk penghasil tembakau
Di saat pertama menginjak dataran tinggi Temanggung
Kekaguman dusun nan permai perlahan sirna
Kegalauan menjalari rasa
Bukit .. hutan .. tersulap hamparan tembakau
Bukit - bukit gundul simpan karma serakah
Alam bisikan sepenggal pesan
Banjir ... longsor ... kekeringan
Keserakahan telah butakan hati
Hidup bukan hanya kemakmuran dan kekayaan duniawi

Mata menerawang ..
Jelajahi bukit ... tebing ...jurang
Kampung ... kehidupan
Seandainya pesan alam jelas terdengar

Hisap cerutu hanya ungkapan arogansi dan nikmat sesaat
Bersahabatlah dengan alam ...
Keperkasaannya memberi nikmat abadi sampai akhir hayat



GALAU SANG MERPATI


Merpati terus mengepakkan sayap
Menerjang senja yang semakin merayap
Tanpa arah dan tujuan
Mengikuti awan yang bergerak perlahan

Merpati semakin tinggi

Tak ingin sejenak berhenti
Terlihat kota semakin garang
Desa semakin gersang

Manusia penuh amarah
Alam tak lagi ramah
Hutan, sawah, taman menyusut
Laut, danau, sungai surut

Bumi tak memberinya ruang
Lingkungan terkubur uang
Merpati terbang meninggi
Hendak gapai langit tertinggi